bintang

Kamis, 03 November 2011

Surat Untuk Sang Mantan 2

Pagi-pagi buta, dan aku dibangunkan suara dari telepon genggamku.
Pesan singkat.
Darimu.
Kau bilang kau sedang rindu.
Aku hanya menarik nafas panjang, mengecup pesanmu, menarik bantal lalu kembali melelapkan diri.
Aku jauh lebih rindu, asal kau tahu.
Tapi sudah tidak boleh lagi.
Kau yakin yang kau rindu itu aku?
Aku yang utuh? Yang katamu banyak menuntut, kekanak-kanakan, terlalu cemburu, menambah beban pikiran, dan hanya membuatmu tidak nyaman?
Kau yakin yang kau rindu itu aku?
Aku yang selalu kau sembunyikan dari dunia dan tak pernah kau akui keberadaannya?
Aku yang selama ini menurutmu tidak cocok denganmu?
Aku rasa bukan, sayang. Bukan aku yang kau rindukan.
Kau rindu pada caraku mencintaimu.
Caraku menunggumu.
Kau rindu gejolakku saat merindukanmu.
Pada kecupan-kecupan dan pujianku.
Kau merindukan rasa memiliki aku.
Jujurlah pada dirimu sendiri, sayang.
Kau tidak pernah membutuhkan aku seperti aku pernah membutuhkanmu.
Kau hanya butuh dibutuhkan.
Kita sudah pernah mencoba sekali.
Dan gagal.
Sakit sekali… (Setidaknya bagiku).
Jadi untuk apa dicoba lagi?
Cinta saja tidak pernah cukup.
Apalagi jika dari aku saja.
Jujurlah pada dirimu sendiri, apa kau bisa melihat masa depan kita?
Apa yang tersisa untuk diperjuangkan?
Tidak ada, sayang.
Tidak ada.
Kau yang bilang sendiri kan, kau tidak tahan pada jarak. Kau tidak tahan pada aku. Untuk itu kulepaskan kamu.
Supaya kita berdua bisa bahagia.
Kau tahu aku masih terlalu mencintaimu sampai hari ini.
Hatiku mungkin berhenti di kamu

Surat Untuk Sang Mantan

Dear a',
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan bagimu ^.^
Aku baik-baik saja, ah... seharusnya tak perlu kukatakan kabarku bagaimana, toh kamu tak pernah menanyakannya.
Febry kamu jangan berpikiran aku tengah menangis saat surat ini ku tulis. Aku sedang tersenyum a'. Senyum yang dulu pernah kau kenal.
Aku bahagia, meskipun aku tak bisa mengelak masih tersisa luka, tapi luka ini tak lagi menyakitiku. Aku tak lagi menangis jika namamu disebut. Aku tak lagi merasa kosong saat melewati sudut-sudut penuh kenangan.
Jika ada satu atau dua bulir air mata membayang, itu hanya karna aku tidak benar-benar dapat membuang kenanganmu.
A'... ah apa masih pantas kusematkan panggilan itu padamu, sementara kita tak lagi menjadi 'kita'
^.^ Takdir tlah memisahkan jalan hidup kita sekarang...
Untuk esok entahlah...
Ah... Sungguhnya aku hanya ingin kau tahu, aku baik-baik saja dan bahagia dengan caraku...
Percayalah aku kan menjaga jejak yg kau tinggal...
Dan percayalah ,aku akan slalu menJaga Apa yang sudah menjadi kenangan di antara kita,,
feb,, engkau adalah wanita Yang pernah aku sayangi sampai sekarang ini ,detik ini,, dan nafas ini yg mengiringi kisah  tanganku untuk menulisnya,,
feb ,, sampai detik ini aku sangat merinndukan ,menginginkan untuk melihat senyum nya yang pernah engkau berikan untukku,,,

n.b. karna  di detik terakhir aku selesai menulisnya, aku merobek habis kertas itu,,,he
maaf yach,,,

;'monggo;'